Kuliah

Cerpen tentang Pengalaman Pribadi Selama Pandemi

Halo sobat, kali ini admin akan berbagi cerpen tentang pengalaman pribadi selama pandemi corona. Pasti kita semua belum lupa betapa kacaunya keadaan ekonomi saat corona melanda.

Banyak yang mengalami PHK masal, kehilangan orang tercinta, keterpurukan ekonomi hingga corona telah menjelma sebagai bencana nasional.

Dibalik kejadian tersebut, ada banyak hikmah yang dapat kita ambil. Salah satunya yaitu corona telah membangkitkan rasa syukur kita atas betapa besarnya karunia kesehatan, pekerjaan, dan udara normal yang kita hirup sehari-hari.

Cerpen tentang pengalaman pribadi selama pandemi

Roy adalah salah satu mahasiswa yang mengalami kejenuhan selama menjalani kuliah daring. Hal ini membuat Roy berpikir bagaimana kejenuhan ini teratasi dan tetap bisa mengembangkan diri selama pandemi melanda.

Ia kerap membuat daily reminder untuk mengurangi rasa malas akibat perkuliahan yang dilakukan dari rumah.

Ketika di sela waktu kesibukan, Roy membuka akun media sosialnya dan menemukan postingan rekrutmen relawan rumah dusun mengajar.

Roy tidak berpikir panjang langsung mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari relawan tersebut. Kebetulan jaraknya juga tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

Tidak lama menunggu, Roy dihubungi untuk mengikuti wawancara pihak relawan rumah dusun mengajar. Dia bertemu dengan pengurusnya dan diberikan pertanyaan. Di relawan mengajar tersebut akan mengajar anak-anak dari TK- SD.

Beberapa hari setelah bertemu pengurus, Roy dinyatakan lolos menjadi relawan dan mengajar anak TK. Dia sangat antusias dan bertanya pada diri nya apa mampu dan bisa?.

Meskipun tidak yakin dengan kemampuan nya, Roy merasa sangat senang sekali. Mengajar anak-anak dibutuhkan kesabaran yang ekstra dan merupakan pengalaman baru baginya.

Jadi, Roy akan menjadi relawan selama 3 bulan, dari Februari- Juni di hari Sabtu dan Minggu pagi.

Pertama kali ke lokasi mengajar, ternyata tempatnya di bawah gedung tinggi dengan fasilitas yang sangat seadanya. Terdapat 40 anak yang antusias belajar.

Roy dipilih mengajar anak TK bersama satu orang lainnya. Berdua mengajar anak TK yang kurang lebih 13 anak.

Sebulan awal, Roy masih bingung dan perlu banyak belajar sabar. Tapi dia sangat bersemangat untuk mengajar karena tiap datang selalu disambut anak-anak dengan panggilan menggemaskan.

Dua bulan berlalu, Roy sudah terbiasa, sabar nya bertambah dan semakin dekat dengan anak-anak. Beberapa dari mereka suka bercerita dan tidak segan untuk meminta foto bersama.

Tiga bulan terakhir, Roy mulai merasa akan kehilangan. Dia merasa waktu sangat cepat dan merasa akan rindu dengan anak-anak lucu ini.

Minggu terakhir mengajar anak-anak, Roy mempunyai kesempatan mendatangi rumah mereka dan bertemu orang tua untuk menanyakan perkembangan anak-anak didiknya tersebut.

Rumah mereka tidak jauh dari lokasi tempat belajar. Roy, temannya dan pengurus mendatangi rumah mereka dengan berjalan kaki. Rumah mereka perlu masuk gang kecil.

Roy terkejut karena rumah mereka jauh dari kata layak. Orang tua mereka kebanyakan adalah berprofesi sebagai pemulung botol atau barang bekas, sopir, hingga tukang ojek.

Jika melihat keceriaan anak-anak dari penampilan mereka yang bersih, rapi, wangi, rajin, dan baik, membuat Roy terharu dan malu.

Dia merasa tertampar dengan keadaan anak didik dan orang tua mereka yang sama-sama berjuang tidak menyerah meski ditengah keadaan ekonomi yang semakin sulit.

Roy juga merasa bangga dan takjub dengan orang tua mereka yang cukup baik mendidik dan merawat mereka walau dengan segala keterbatasannya.

Sedangkan di luar sana, ada banyak sekali orang tua yang jauh lebih mapan dari segi ekonomi tetapi tidak mendidik anak-anak mereka dengan baik.

Waktu perpisahanpun tiba. Meskipun waktu dan lelah yang digunakan selama ini untuk mengajar tidak mendapatkan upah apapun. Tapi Roy tetap bangga bisa menjadi bagian dari relawan rumah dusun mengajar.

Roy sangat berharap kegiatan ini tidak hanya ada saat musibah pandemic melanda. Tetapi bisa seterusnya membantu mengajar anak-anak tersebut dalam meraih pendidikan yang layak demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Begitulah pengalaman Roy yang tidak bisa terlupakan ketika menjadi relawan rumah dusun mengajar selama pandemi melanda.

Kegiatan baik ini saya tuliskan bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk mendokumentasikan pengetahuan agar tidak hilang dimakan zaman. Dan juga untuk mengingatkan pemuda/i agar tetap bersyukur dan terus berjalan maju untuk melangkah menjadi lebih baik di kondisi apapun.

Baca juga : Contoh teks pidato tentang pergaulan remaja masa kini.

Demikianlah cerpen tentang pengalaman pribadi selama pandemi corona yang dapat saya bagikan pada posting kali ini. Semoga dapat memacu semangat kita semua untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain dan tidak mudah menyerah dalam keterpurukan.

Berdiam diri hanya membuat mati lebih cepat dan terlupakan oleh zaman. Bergeraklah dan terus bersyukur karena di dalam gelapnya kehidupan pasti ada secercah sinar cahaya.

Mungkin kamu menyukainya :

Rio

Praktisi Bisnis Digital